Baca Juga: Jumat Curhat di Dangdeur, Kapolsek Subang ajak warga cegah kriminalitas dan kebakaran lahan
Kehilangan hutan primer menjadi perhatian
Selain data emisi karbon, NASA mengutip data Global Forest Watch yang mencatat kehilangan sekitar 27.000 hektare hutan primer di Papua Indonesia sepanjang 2025.
Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Perubahan bentang alam untuk berbagai kepentingan turut menjadi tekanan terhadap kawasan hutan Papua.
Aktivitas yang disebutkan mencakup pengembangan perkebunan kelapa sawit, industri kayu pulp, pertanian, perluasan perkotaan, dan pertambangan.
Baca Juga: Promedia Group bawa teknik jurnalistik ke pelatihan Relationship Manager Hana Bank
Perubahan tutupan lahan tersebut menjadi bagian dari kondisi lingkungan yang disoroti dalam laporan mengenai kebakaran di Pulau New Guinea.
Sementara itu, kekeringan yang berkaitan dengan El Niño membuat vegetasi dan lahan lebih rentan terbakar.
Para peneliti memperkirakan kebakaran dapat berlanjut hingga hujan lebat pada musim penghujan tiba di bagian selatan Pulau New Guinea.
Hujan di kawasan tersebut biasanya mulai terjadi pada awal November.
Baca Juga: Santri Subang ukir prestasi internasional hingga provinsi, Kang Rey dorong generasi berdaya
Dengan demikian, kondisi cuaca dan aktivitas manusia menjadi dua aspek yang disoroti dalam penjelasan mengenai kebakaran pada 2026.
Data emisi karbon, citra satelit, dan catatan kehilangan hutan memberikan gambaran mengenai besarnya kebakaran serta tekanan yang dihadapi ekosistem di Papua dan kawasan New Guinea.***