Selain pembersihan pascabencana, Ferry juga mendorong pemasangan penahan kayu di bagian hulu sungai.
“Pasang dulu wood debris barrier di hulu DAS, di Jepang disebut sabo dam, fungsinya air lewat, kayu ketahan,” jelasnya.
Tak hanya itu, Ferry mengusulkan agar kayu sisa banjir dimanfaatkan secara produktif melalui kolaborasi lintas sektor.
“BNPB sebagai komando, bikin standar teknis, BUMDes atau UMKM yang ngolah kayunya, sekalian ciptain nilai ekonomi lokal,” tandasnya.
Baca Juga: Subang raih juara II PKK desa terbaik Jabar di Hari Ibu ke-97, bukti perempuan desa makin berdaya
Pandangan Ferry Irwandi ini menjadi pengingat bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya bersifat reaktif.
Tanpa pengelolaan puing kayu yang serius dan berbasis ilmu, ancaman kerusakan berulang akan terus membayangi wilayah rawan bencana di Sumatera.***