AI dan masa depan data bangsa
Namun, optimisme ini tidak datang tanpa catatan. Ketua Umum APTIKNAS, Soegiharto Santoso, menyoroti potensi kebocoran data nasional bila produk-produk AI dijual ke luar negeri.
Ia memberi contoh bagaimana sistem seperti QRIS menyimpan pola konsumsi nasional dan bisa jadi senjata jika dikelola pihak luar.
“AI dikembangkan berdasarkan big data, dan jika datanya bocor, kita bisa dipetakan oleh negara lain. Ini persoalan kedaulatan digital,” tegasnya.
Ketika AI menyentuh segala sisi kehidupan
Sorotan menarik muncul dari Sabrang, filsuf sekaligus praktisi AI. Ia mengajak publik untuk memahami cara kerja AI bukan sekadar sebagai alat bantu, tetapi entitas teknologi yang mengubah struktur kerja manusia.
“Semakin simpel pekerjaan, semakin cepat digantikan. Tapi kini AI bahkan mulai menembus pekerjaan yang dulunya dianggap kompleks,” ujarnya.
Baginya, diskusi tentang AI harus memasukkan dimensi etika, keadilan sosial, dan ketahanan budaya.
Sementara itu, CEO Persib Bandung Adhitia Herawan menunjukkan sisi lain penggunaan AI yang lebih praktis.
Di dunia sepakbola profesional, AI digunakan untuk menganalisis permainan, performa pemain hingga pengambilan keputusan strategis dalam pertandingan.
“AI memberi kita insight yang tak terlihat sebelumnya. Bahkan detak jantung pemain kini jadi bagian dari strategi tim,” katanya.
Tantangan regulasi dan komitmen investasi