sains

Membaca masa depan AI Indonesia: Kolaborasi pemerintah, komunitas, dan dunia usaha di CITCOM CONNEXT 2025

Kamis, 24 April 2025 | 20:51 WIB
Acara CITCOM CONNEXT 2025 di Bandung, pada 22 April 2025 (Dok. CITCOM CONNEXT 2025)

AI dan masa depan data bangsa

Namun, optimisme ini tidak datang tanpa catatan. Ketua Umum APTIKNAS, Soegiharto Santoso, menyoroti potensi kebocoran data nasional bila produk-produk AI dijual ke luar negeri.

Baca Juga: Telisik penemuan bayi di rumah kosong wilayah kebumen, diduga ditelantarkan Kepala SD yang malu gegara selingkuh

Ia memberi contoh bagaimana sistem seperti QRIS menyimpan pola konsumsi nasional dan bisa jadi senjata jika dikelola pihak luar.

“AI dikembangkan berdasarkan big data, dan jika datanya bocor, kita bisa dipetakan oleh negara lain. Ini persoalan kedaulatan digital,” tegasnya.

Ketika AI menyentuh segala sisi kehidupan

Sorotan menarik muncul dari Sabrang, filsuf sekaligus praktisi AI. Ia mengajak publik untuk memahami cara kerja AI bukan sekadar sebagai alat bantu, tetapi entitas teknologi yang mengubah struktur kerja manusia.

“Semakin simpel pekerjaan, semakin cepat digantikan. Tapi kini AI bahkan mulai menembus pekerjaan yang dulunya dianggap kompleks,” ujarnya.

Baca Juga: Kuasa hukum pastikan anak Lisa Mariana anak kandung Revelino: LM ingin ditemui saat ngidam, ingin bertemu ayahnya

Baginya, diskusi tentang AI harus memasukkan dimensi etika, keadilan sosial, dan ketahanan budaya.

Sementara itu, CEO Persib Bandung Adhitia Herawan menunjukkan sisi lain penggunaan AI yang lebih praktis.

Di dunia sepakbola profesional, AI digunakan untuk menganalisis permainan, performa pemain hingga pengambilan keputusan strategis dalam pertandingan.

“AI memberi kita insight yang tak terlihat sebelumnya. Bahkan detak jantung pemain kini jadi bagian dari strategi tim,” katanya.

Baca Juga: Ramai insiden pembakaran mobil polisi di Depok: Dedi Mulyadi klaim itu masalah premanisme, bukan ormas kelembagaan

Tantangan regulasi dan komitmen investasi

Halaman:

Tags

Terkini