Penelitian juga menunjukkan bahwa TFA berpotensi beracun bagi reproduksi mamalia dan mungkin dapat merusak organ hati.
Meskipun dampak kesehatan terhadap manusia masih perlu diteliti lebih lanjut, konsentrasi TFA di lingkungan dilaporkan meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir.
Kini, TFA dapat ditemukan hampir di segala tempat, termasuk dalam air hujan, sungai, tanah, tanaman, makanan, air ledeng, dan bahkan darah manusia.
Para peneliti berpendapat bahwa peningkatan ini terjadi karena banyak jenis PFAS yang melepaskan TFA sebagai produk degradasinya.
Kekhawatiran terhadap kemurnian air mineral
Air mineral seharusnya dianggap sebagai sumber air yang murni, yang berasal dari air bawah tanah yang terlindungi dari polusi.
Peneliti menekankan bahwa kemurnian ini adalah persyaratan hukum di Uni Eropa.
Air mineral yang diproduksi di Eropa tidak boleh mengalami pengolahan selain proses tertentu yang bertujuan untuk menghilangkan komponen tidak stabil atau tidak diinginkan.
Di Amerika Serikat, air mineral juga harus berasal dari sumber yang diambil dari mata air atau lubang bor yang terjaga secara geologis dan fisik, sesuai dengan ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
Namun, analisis yang dilakukan oleh PAN Europe menunjukkan bahwa beberapa merek air mineral di Eropa terkontaminasi TFA dengan tingkat yang melebihi batas yang ditetapkan untuk air minum di Uni Eropa.
Bahkan, dalam satu kasus, jumlah TFA ditemukan melebihi batas yang diusulkan untuk total PFAS dalam air minum yang akan berlaku mulai tahun 2026.
"Kami menyadari bahwa perusahaan air mineral yang terkena dampak mungkin tidak memiliki kemampuan atau memiliki kemampuan terbatas untuk mencegah pencemaran TFA pada sumber air mereka," ungkap PAN Europe.