Baca Juga: Viral insiden mobil listrik Ioniq 6 terbakar di Simpang Tomang Jakbar, gimana awalnya?
Salah satu perwakilan GAM, Fajar Wasis, mengatakan kedatangan mereka ke Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi untuk mempertanyakan penyebab kelangkaan BBM dan gas elpiji 3 kg yang dirasakan masyarakat.
“Kami melihat bahwa persoalan distribusi BBM, baik itu pertalite, pertamax, dan gas 3 kg,” kata Fajar dalam orasinya.
Warga dipersoalkan soal 'panic buying'
Selain menyoroti kelangkaan dan panjangnya antrean, GAM juga mempersoalkan pernyataan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang menyebut antrean di sejumlah SPBU diduga terjadi akibat panic buying.
Baca Juga: Buntut kasus di Pamanukan, Kang Rey minta guru Subang tak lakukan penyimpangan di sekolah
Fajar menilai alasan tersebut seolah-olah menempatkan masyarakat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kondisi antrean dan sulitnya mendapatkan BBM maupun gas elpiji 3 kg.
“Persoalan kelangkaan BBM dan gas LPG 3 kilo itu kemudian tidak mampu dibenarkan dengan alasan bahwa masyarakat yang kemudian salah karena dia yang panik sehingga melakukan pembelian secara tidak wajar,” tegasnya.
Menurut Fajar, persoalan utama yang perlu dijelaskan adalah distribusi BBM dan gas elpiji kepada masyarakat.
“Kami melihat bahwa persoalan distribusi BBM, baik itu pertalite, pertamax, dan gas 3 kg. Itu merupakan tanggung jawab dari Pertamina untuk menyediakan secara cukup. Namun, hari ini masyarakat masih sulit mendapatkannya,” bebernya.
Baca Juga: Jejak biadab dugaan santriwati alami pelecehan di Ponpes Sleman, dari rudapaksa hingga hamil
Demonstrasi berujung kericuhan
Persoalan kelangkaan tersebut kemudian dibawa GAM melalui aksi demonstrasi di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Jalan Garuda, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso, Makassar.
Pada awalnya, aksi berlangsung kondusif. Massa secara bergantian menyampaikan orasi di depan pintu masuk kantor Pertamina dengan pengawalan aparat kepolisian dan TNI.
Namun, setelah sekitar satu jam berorasi, massa mulai emosi karena tidak kunjung ditemui pejabat atau perwakilan Pertamina Sulawesi.