Dugaan keracunan tersebut berkaitan dengan makanan MBG yang didistribusikan sehari sebelumnya, yakni Selasa, 8 September 2026.
Sejumlah siswa dan guru mulai mengalami gejala pada Selasa malam hingga Rabu pagi. Keluhan yang muncul di antaranya diare, mual, muntah, dan sakit perut.
Menu MBG yang dikonsumsi pada Selasa tersebut berupa nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orek tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka.
Hingga Rabu petang, tercatat sedikitnya 273 siswa dan 43 guru dari dua sekolah mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan.
Baca Juga: Siapa Abdul Hakim Ritonga? Lulusan FH UI yang memulai karier panjang di Kejaksaan pada 1980 silam
Di MTs Negeri 3 Pati, sebanyak 127 siswa dan 30 guru mengalami gejala serupa. Sementara dari SMP Negeri 1 Gembong, terdapat 103 siswa dan 13 guru yang mengalami gejala.
Para korban kemudian mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan yang telah disiapkan.
Makanan MBG diduga terlambat tiba
Kepala MTs Negeri 3 Pati Zaenal Arifin mengungkapkan, terdapat perbedaan waktu kedatangan makanan MBG pada Selasa, 8 September 2026.
Baca Juga: Bupati Subang tegaskan perubahan APBD 2026 bukan sekadar kejar serapan, PAD jadi sorotan
Biasanya makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 11.20 WIB. Namun, pada hari tersebut makanan baru tiba dan dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB.
Kondisi serupa terjadi di SMP Negeri 1 Gembong. Makanan MBG yang biasanya tiba sekitar pukul 09.30 WIB, pada hari tersebut baru datang sekitar pukul 11.30 WIB.
Keterlambatan distribusi tersebut menjadi salah satu informasi yang muncul dalam penanganan dugaan keracunan makanan MBG di dua sekolah tersebut.
Baca Juga: DPRD Subang soroti aset daerah belum optimal, Pasar Pamanukan hingga tanah PTC jadi perhatian
Sampel makanan diperiksa di laboratorium