“Ketinggian kolom diestimasi 13 km, itu sudah menembus hampir ke lapisan tropopause,” tambahnya.
Semburan disebut berpotensi menyebar
Erma kemudian menyoroti warna cokelat pekat pada semburan kolom erupsi yang menurutnya perlu diantisipasi pemerintah dan negara-negara tetangga.
“Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley,” ungkap Erma.
Dalam penuturannya, Erma juga menyebut Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang menghasilkan gemuruh dan lava fountain atau lava air mancur.
“(Hal) yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis,” imbuhnya.
Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga
Sementara itu, berdasarkan laporan Pengamat Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kondisi Gunung Anak Krakatau juga terus dipantau.
Dilansir dari situs magma.esdm.go.id milik PVMBG, pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 11.30 WIB, cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan hingga mendung.
Angin terpantau lemah hingga sedang dan bergerak ke arah barat laut.
Pengamat Gunung Api PVMBG, Rioboneik Situmorang, dalam laporan pada hari yang sama menyebut asap kawah belum teramati.
“Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati,” tulis Rioboneik dalam laporannya.