news

Gunung Anak Krakatau dilaporkan alami erupsi, warga cemaskan adanya dentuman berulang

Sabtu, 5 September 2026 | 17:59 WIB
Menyoroti erupsi Gunung Anak Krakatau pada kawasan Selat Sunda pada Sabtu, 5 September 2026. Berikut situasi terkini di lokasi (Instagram.com/@halokrw - @bantenraya)

Baca Juga: Kasus dugaan korupsi kredit Bank BJB: Ajukan dengan dokumen fiktif hingga kerugian negara mencapai Rp8,7 miliar

“Ketinggian kolom diestimasi 13 km, itu sudah menembus hampir ke lapisan tropopause,” tambahnya.

Semburan disebut berpotensi menyebar

Erma kemudian menyoroti warna cokelat pekat pada semburan kolom erupsi yang menurutnya perlu diantisipasi pemerintah dan negara-negara tetangga.

“Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley,” ungkap Erma.

Dalam penuturannya, Erma juga menyebut Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang menghasilkan gemuruh dan lava fountain atau lava air mancur.

Baca Juga: BGN tak membantah MBG sempat disalurkan saat sekolah libur dampak karhutla: Dapur sudah persiapan, harus dimasak dan diambil

“(Hal) yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis,” imbuhnya.

Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga

Sementara itu, berdasarkan laporan Pengamat Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kondisi Gunung Anak Krakatau juga terus dipantau.

Dilansir dari situs magma.esdm.go.id milik PVMBG, pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 11.30 WIB, cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan hingga mendung.

Angin terpantau lemah hingga sedang dan bergerak ke arah barat laut.

Baca Juga: 2 Relawan damkar di Kalteng wafat usai berjuang padamkan karhutla, diduga kelelahan usai padamkan api

Pengamat Gunung Api PVMBG, Rioboneik Situmorang, dalam laporan pada hari yang sama menyebut asap kawah belum teramati.

“Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati,” tulis Rioboneik dalam laporannya.

Halaman:

Tags

Terkini