Gaya hidup mewah tuai kecaman
Tak hanya soal minyak, unggahan lain juga memperlihatkan gaya hidup yang dianggap berlebihan.
Dalam beberapa tangkapan layar, terlihat percakapan yang mengarah pada rencana perjalanan ke luar negeri hingga pembelian barang-barang bernilai tinggi.
"Hidup kadang di Paris, Inggris, Jerman," tulis salah satu unggahan yang beredar.
Hal ini semakin memperkuat persepsi publik bahwa terdapat gaya hidup mewah yang dipamerkan secara terbuka di media sosial.
Baca Juga: Bullying bukan sekadar bercanda, polisi bongkar dampak dan ancaman hukumnya ke siswa SD di Subang
Warganet pun mempertanyakan empati terhadap kondisi masyarakat yang masih membutuhkan bantuan pascabencana.
Ironi di tengah kondisi pascabencana
Sorotan terhadap kasus ini semakin tajam karena muncul di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Infrastruktur seperti jembatan dilaporkan masih rusak, sementara distribusi BBM belum stabil.
Banyak pihak menilai bahwa unggahan tersebut mencerminkan kurangnya kepekaan sosial, terutama bagi keluarga yang memiliki latar belakang pejabat publik.
Baca Juga: Nanik Deyang mundur, sosok pengganti Kepala BGN yang tetap diawasinya mendadak jadi sorotan
Kritik pun terus mengalir di media sosial, dengan sebagian warganet meminta adanya klarifikasi serta evaluasi terhadap perilaku yang dinilai tidak mencerminkan empati terhadap masyarakat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai polemik tersebut.
Namun, kasus ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya etika bermedia sosial, terutama bagi figur yang memiliki kedekatan dengan pejabat publik.***