Menurutnya, hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu mencukupi kebutuhan gizi secara optimal tanpa bantuan.
Oleh karena itu, kehadiran program MBG dinilai sangat relevan untuk menjawab tantangan tersebut.
Baca Juga: Pesawat dibakar dan pilot dibunuh di Papua, pemerintah kutuk keras aksi KKB
Program ini, kata dia, bukan sekadar bantuan sosial, tetapi juga bentuk intervensi strategis pemerintah dalam mengurangi kesenjangan sosial, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.
Dampak nyata bagi ekonomi lokal
Tak hanya berdampak pada kesehatan, Bambang juga menilai MBG memberikan efek domino terhadap perekonomian lokal.
Ia mengapresiasi keterlibatan pelaku usaha seperti peternak ayam petelur dan pemasok bahan pangan yang turut mendukung keberlangsungan program.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha lokal menjadi kekuatan utama agar program berjalan optimal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Ini bukan hanya soal makan bergizi, tapi juga bagaimana program ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Evaluasi jadi bagian penyempurnaan
Bambang juga menanggapi berbagai catatan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG. Ia menilai hal tersebut sebagai proses yang wajar dalam kebijakan berskala nasional.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kekurangan yang ada seharusnya menjadi bahan perbaikan, bukan alasan untuk menghentikan program.
Baca Juga: Sawah mengering di Subang, ratusan hektare padi terancam gagal panen