Dapur SPPG diusulkan dipecah
Salah satu sorotan utama Agus adalah konsep dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai terlalu besar dan membutuhkan biaya tinggi.
Saat ini, satu dapur mampu melayani hingga 3.000–3.500 porsi per hari dengan investasi mencapai miliaran rupiah.
Menurutnya, kondisi ini membuat pelaku UMKM sulit terlibat karena keterbatasan modal.
“Karena konsep SPPG yang sekarang butuh modal besar, akhirnya pemiliknya ya orang-orang berduit saja,” jelasnya.
Ia mengusulkan agar dapur tersebut dipecah menjadi unit lebih kecil dengan kapasitas maksimal 500 porsi per hari.
Baca Juga: Viral momen kepanikan siswa saat wisuda sekolah usai gempa magnitudo 6,7 guncang wilayah Palu
Dengan skema ini, lebih banyak pihak seperti UMKM, katering kecil, hingga kantin sekolah bisa ikut serta dalam program MBG.
“Semakin banyak titik dapur, penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi di daerah akan meningkat,” tambahnya.
Perluasan sasaran penerima
Selain pengelolaan dapur, Agus juga menyoroti pentingnya memperluas sasaran penerima manfaat program. Ia menilai MBG tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga kelompok masyarakat rentan lainnya.
“Penerima program ini bisa menyasar buruh tidak tetap seperti buruh tani, bangunan, dan lainnya,” paparnya.
Baca Juga: Viral insiden kerusuhan diskusi publik di UGM: Mahasiswa ogah dengar, pejabat bantah kabur
Menurutnya, bantuan makan siang bagi pekerja harian dapat membantu mengurangi pengeluaran sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.