news

Viral dugaan penipuan riset di konferensi internasional, bagaimana bisa lolos seleksi?

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:34 WIB
Menyoroti lolosnya penelitian Rifaldy Fajar cs di konferensi ilmiah internasional di Denmark (Instagram/w.o.d.d)

Baca Juga: Sorotan khusus: Dugaan riset bodong WNI di ISPPD 2026 tuai kritik, kredibilitas ilmuwan RI dipertaruhkan

Sistem bergantung pada integritas peneliti

Lebih lanjut, Dwi menegaskan bahwa sistem seleksi dalam konferensi ilmiah internasional pada dasarnya sangat bergantung pada integritas peneliti.

Ia menyebut, pihak penyeleksi tidak melakukan pemeriksaan mendalam terhadap data dalam abstrak karena adanya asumsi bahwa semua ilmuwan menjunjung tinggi kejujuran akademik.

“Mereka tidak akan sampai cross-check data di abstract, karena asumsi semua ilmuwan berintegritas. Tentu tidak mungkin berani melakukan hal-hal seperti ini,” tuturnya.

Kondisi inilah yang dinilai menjadi celah bagi oknum untuk memanfaatkan sistem demi kepentingan tertentu, termasuk dugaan penggunaan data tidak valid hingga rekayasa penelitian.

Baca Juga: ICCN luncurkan Indonesia Culture Festival, dorong ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan

Dampak pada reputasi peneliti Indonesia

Dwi juga menyoroti dampak yang ditimbulkan dari kasus ini terhadap peneliti Indonesia lainnya.

Ia mengungkapkan bahwa standar presentasi yang tidak sesuai, seperti penggunaan poster sederhana berukuran kertas HVS A4, turut menjadi sorotan peserta dari negara lain.

Hal tersebut dinilai merugikan peneliti Indonesia yang telah mempersiapkan riset secara serius dan profesional.

“Mereka itu dipikir poster yang dalam bentuk kertas HVS dengan hasil data seperti itu kerjaan teman-teman gue semua. Padahal teman-teman gue sudah berusaha keras menyiapkan penelitian untuk dipresentasikan di ISPPD ini,” ungkapnya.

Baca Juga: Samsara Bamboo Festival 2026 angkat bambu sebagai solusi lingkungan dan ekonomi hijau di Bali

Kasus ini pun menjadi pengingat penting akan pentingnya menjaga integritas dalam dunia akademik, terutama di forum internasional yang membawa nama bangsa.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Prihantini terkait dugaan penipuan riset yang beredar luas di publik.***

Halaman:

Tags

Terkini