Ia secara khusus menyoroti dampak yang dirasakan peserta dan guru pendamping, terutama dari SMAN 1 Pontianak.
“Saya menyadari sepenuhnya bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan kekecewaan, ketidaknyamanan, bahkan melukai perasaan berbagai pihak,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kalimantan Barat yang mengikuti jalannya perlombaan tersebut.
Jadi pembelajaran untuk lebih bijak
Lebih lanjut, Shindy mengaku menjadikan peristiwa ini sebagai evaluasi diri agar lebih berhati-hati dalam berbicara di ruang publik.
Ia menyadari pentingnya memilih diksi yang tepat, terutama saat berada dalam posisi yang disorot banyak orang.
Baca Juga: Viral ‘mungkin hanya perasaan adik-adik’, MC LCC MPR RI Shindy Lutfiana minta maaf usai tuai kritik
“Peristiwa ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk lebih berhati-hati, bijaksana, serta lebih cermat dalam memilih dan menggunakan diksi,” ujarnya.
Shindy juga berkomitmen untuk memperbaiki diri dan bersikap lebih baik ke depannya.
Sorotan pentingnya empati di ruang publik
Kasus ini menjadi pengingat bahwa komunikasi di ruang publik memerlukan sensitivitas tinggi, terutama bagi figur yang berinteraksi langsung dengan peserta atau audiens.
Ucapan yang dianggap sepele dapat menimbulkan dampak besar, terlebih jika menyangkut perasaan dan pengalaman orang lain.***