Ia menilai, keberadaan mangrove tidak hanya berdampak pada ekologi, tetapi juga berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.
Baca Juga: Polisi temukan uang Rp10 juta dari korlap demo buruh di DPR, diduga untuk gerakkan massa
Menurutnya, mangrove memiliki fungsi vital, mulai dari menghasilkan serasah yang menjadi sumber nutrisi bagi ekosistem laut hingga menjadi habitat penting bagi ikan dan biota lainnya.
Selain itu, mangrove juga berperan sebagai pelindung alami dari abrasi dan gelombang laut.
“Kita pada prinsipnya ingin mengembalikan lagi pada tatanan awal, bahwa di sini harus dijaga alam dan lingkungannya, jangan sampai ada alih fungsi lahan atau ada penggunaan lahan untuk hal-hal yang tidak manfaat atau bahkan merusak ekosistem yang ada,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan mangrove dapat memperparah risiko banjir rob yang sudah mulai mengkhawatirkan di wilayah pesisir Subang.
Baca Juga: Diduga mesin mati di rel, mobil rombongan haji tertabrak KA Argo Bromo di Grobogan: 4 Tewas
“Tanpa dihancurkan pun, rob itu sudah sangat mengkhawatirkan, apalagi kalau sampai mangrove-mangrovenya tergusur,” jelasnya.
Komitmen seimbangkan ekonomi dan lingkungan
Di tengah polemik tersebut, Bupati Subang menegaskan komitmennya untuk menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan kelestarian lingkungan.
Ia menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Ia menyebut, arah kebijakan ke depan akan menitikberatkan pada ketahanan daerah berbasis ekologi, agar pembangunan tetap berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.
Baca Juga: Qodari ungkap fakta di balik tudingan Amien Rais ke Seskab Teddy: Terjebak hoaks
“Kita harus balance ekosistem dengan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan kawasan pesisir tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekosistem dan keselamatan masyarakat di masa depan.