Selain kualitas, Jumarti juga menyinggung harga per porsi MBG yang disebut mencapai Rp15.000. Ia mempertanyakan selisih harga beberapa komponen makanan.
“Anda bilang ini roti berapa? Saya ini pedagang, ini di sana Rp750 karena saya biasa ambil di pabriknya, ini sama. Kalau dijual Rp3.500, berapa keuntungannya?” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa program MBG dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang bersumber dari pajak rakyat.
“MBG jangan dianggap gratis, Rp15.000 itu dari pajak rakyat, dari guru,” katanya.
Menurutnya, program yang bersumber dari uang negara harus dikelola secara transparan dan bertanggung jawab.
Ia bahkan menyatakan siap melaporkan persoalan tersebut jika tidak ada perbaikan.
Video disebut dokumentasi internal
Belakangan diketahui, video tersebut direkam pada 24 Februari 2026 dan awalnya dimaksudkan sebagai dokumentasi internal.
Baca Juga: Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Indonesia itu kini telah berpulang di usia 90 tahun
Jumarti mengaku sengaja merekam sebagai bukti agar ada evaluasi dari pihak SPPG.
Ia juga menyebut bahwa setelah kejadian itu, kualitas pelayanan dan menu disebut telah mengalami perbaikan.
Meski demikian, ia menegaskan kritik yang disampaikan bertujuan agar pelaksanaan MBG ke depan lebih baik.
“Tujuan saya itu adalah agar SPPG itu berbenah. Ini sudah terjadi ya harus dihadapi,” tandasnya.
Viralnya video tersebut memicu perbincangan luas di media sosial terkait pengawasan, kualitas makanan, serta transparansi program MBG di daerah.***