Rumah lenyap, warga bertahan dengan terpal
Tak hanya akses jalan, hampir seluruh rumah warga Desa Sekumur rusak parah dan tak bisa lagi ditempati.
Akibatnya, warga terpaksa membangun tempat tinggal darurat menggunakan terpal dan bahan seadanya.
“Semua rumah di sini lenyap. Warga bahu-membahu mendirikan tempat tinggal sementara menggunakan terpal,” ungkap Marlina.
Saat ini, sekitar 260 kepala keluarga atau kurang lebih 1.200 jiwa tinggal di posko pengungsian swadaya.
Warga masih sangat membutuhkan tenda yang layak, fasilitas air bersih, genset, lampu penerangan, serta perlengkapan sarana ibadah.
Logistik aman, alat ibadah dan sekolah masih kurang
Salah satu warga setempat mengungkapkan bahwa bantuan logistik berupa sembako relatif aman berkat donasi dari berbagai pihak. Namun, kebutuhan lain masih sangat terbatas.
“Alhamdulillah sembako sudah aman, ada bantuan dari masyarakat luar,” ujarnya.
“Yang paling dibutuhkan sekarang alat sarana ibadah, Bu. Puasa sebentar lagi, selain itu akses jalan,” lanjutnya.
Permintaan juga datang dari anak-anak korban banjir. Seorang anak menyampaikan kebutuhan perlengkapan sekolah yang hanyut terbawa banjir.
Baca Juga: Viral air banjir Aceh Tamiang diduga bercampur solar, warga temukan lapisan minyak mengambang
“Minta sepatu, baju sekolah, peralatan sekolah, sama Al-Qur’an karena semuanya hanyut,” katanya polos.