GENMILENIAL.ID — Polemik pembengkakan biaya atau cost overrun proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali memanas.
Lonjakan biaya mencapai 1,21 miliar dolar AS atau sekitar Rp19,96 triliun dianggap sebagai buah dari perencanaan yang tidak matang dan studi kelayakan yang dinilai tidak empirik.
Akademisi Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, mengungkapkan bahwa China hanya menghabiskan waktu tiga bulan untuk menyusun studi kelayakan proyek Whoosh.
Studi tersebut bahkan disebut mengacu pada data milik Jepang yang sebelumnya melakukan kajian serupa selama empat tahun.
China gunakan studi kelayakan Jepang
Menurut Sulfikar, studi kelayakan China tidak dilakukan dari nol, melainkan berasal dari analisis atas hasil kajian Jepang.
“Mereka mengambil studi kelayakan Jepang, dipelajari, lalu membuat proposal sendiri berdasarkan studi itu,” ujar Sulfikar dalam podcast Forum Keadilan TV, Sabtu 15 November 2025.
Berbeda dengan Jepang yang melakukan survei lapangan bertahun-tahun, China disebut tidak melakukan penelitian empiris secara menyeluruh.
“Studinya tidak empirik. Mereka membuat proposal seakan-akan lebih murah dari Jepang, dari 6,2 miliar dolar menjadi tawaran 5,5 miliar dolar,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti rancangan jalur yang sejak awal disebut janggal, mulai dari berhenti di Halim dan Tegalluar, hingga baru ditambahkan Padalarang setelah proyek berjalan.
Studi tak turun lapangan dianggap picu cost overrun
Sulfikar menegaskan, membengkaknya utang Whoosh adalah konsekuensi dari studi kelayakan yang tidak akurat.