“Diulik terus, ijazah, pindah ijazah ke pemakzulan, pindah ke ijazah anaknya, sekarang Whoosh dalam satu tahun,” ujarnya.
Ray menyebut fenomena ini sebagai bentuk 'Jokowisasi', istilah yang ia ciptakan untuk menggambarkan bagaimana mantan pejabat bisa terus menjadi pusat kritik dan evaluasi publik pasca-lengser.
“Ini Anda bisa lho di-Jokowisasi setelah tidak jadi pejabat, diulik terus,” candanya.
Beda dari era Soeharto
Ray juga membandingkan situasi Jokowi dengan Presiden Soeharto.
Ia menilai gelombang kritik terhadap Jokowi lebih kuat karena tidak muncul dari krisis besar atau pergolakan politik, melainkan dari dinamika masyarakat sipil yang lebih terbuka.
“Kalau Pak Harto kan ada peristiwa 1998 itu, jadi ada alasan besar kenapa publik menilai. Tapi di Pak Jokowi ini, tanpa krisis pun publik tetap mengevaluasi kepemimpinannya,” pungkas Ray.***