“Alat berat sudah bergerak masif. Tim medis, relawan, semuanya bekerja keras di lapangan,” tegas Suharyanto.
Sementara itu, Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa bangunan Ponpes Al Khoziny mengalami pancake collapse, tipe patahan vertikal yang sangat berbahaya.
“Ini harus ditangani secara khusus. Salah gerak sedikit, bisa ambruk lagi,” ujarnya.
Belajar dari tragedi dunia
Reruntuhan tipe ‘pancake’ bukan hal baru dalam dunia konstruksi. Kasus serupa pernah terjadi di Bronx (1980) dan menara kembar WTC, New York (2001), yang sama-sama diakibatkan oleh kegagalan struktur bangunan bertingkat.
Fenomena ini kini menjadi sorotan publik dan ahli teknik sipil, mengingat Indonesia masih memiliki banyak bangunan berlantai lebih dari dua tanpa pengawasan struktur yang ketat.
Tragedi di Al Khoziny menjadi pengingat pahit bahwa keselamatan bangunan pendidikan termasuk pondok pesantren, perlu mendapat perhatian serius.
Bukan hanya soal doa dan empati, tapi juga soal standar keselamatan yang seharusnya tidak bisa dinegosiasikan.***