“Alat berat sudah bergerak masif. Tim medis, relawan, semuanya bekerja keras di lapangan,” tegas Suharyanto.
Sementara itu, Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa bangunan Ponpes Al Khoziny mengalami pancake collapse, tipe patahan vertikal yang sangat berbahaya.
“Ini harus ditangani secara khusus. Salah gerak sedikit, bisa ambruk lagi,” ujarnya.
Belajar dari tragedi dunia
Reruntuhan tipe ‘pancake’ bukan hal baru dalam dunia konstruksi. Kasus serupa pernah terjadi di Bronx (1980) dan menara kembar WTC, New York (2001), yang sama-sama diakibatkan oleh kegagalan struktur bangunan bertingkat.
Fenomena ini kini menjadi sorotan publik dan ahli teknik sipil, mengingat Indonesia masih memiliki banyak bangunan berlantai lebih dari dua tanpa pengawasan struktur yang ketat.
Tragedi di Al Khoziny menjadi pengingat pahit bahwa keselamatan bangunan pendidikan termasuk pondok pesantren, perlu mendapat perhatian serius.
Bukan hanya soal doa dan empati, tapi juga soal standar keselamatan yang seharusnya tidak bisa dinegosiasikan.***
Artikel Terkait
Gedung SD Negeri mau ambruk, seperti apa upaya Disdikbud Subang cari bantuan?
Ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: 100 santri jadi korban, 26 masih hilang
Evakuasi Ponpes Al Khoziny: 66 santri diduga terjebak, Tim SAR lawan medan sempit dan ancaman gempa susulan
Cerita pilu kakak yang sempat selamatkan adiknya, 5 santri tewas akibat reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Tim SAR gunakan alat berat, 10 korban meninggal dunia dalam reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
BNPB: 14 santri tewas, 49 masih hilang dalam tragedi ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Kisah haru di balik reruntuhan Ponpes Al Khoziny: 3 hari bertahan tanpa makan, salat di bawah puing, hingga diamputasi untuk hidup