GENMILENIAL.ID – Ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Israel kian memanas, memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik berskala besar.
Data terkini mencatat, sebanyak 224 orang tewas dan lebih dari 1.200 lainnya luka-luka di Iran.
Sementara itu, Israel melaporkan 24 orang tewas dan 592 orang terluka akibat serangan balasan Iran.
Di tengah situasi genting tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dikenal sebagai sekutu dekat Israel, menyatakan bahwa Iran tidak akan mampu memenangkan perang melawan Israel.
Baca Juga: Petarung MMA kritik Wali Kota Pematangsiantar di atas ring, sindir ucapan ‘tak ada atlet bisa kaya’
“Mereka harus membuat kesepakatan, dan itu menyakitkan bagi kedua belah pihak,” kata Trump menjelang kehadirannya di KTT G7 di Kanada, seperti dikutip dari AFP, Selasa, 17 Juni 2025.
“Menurut saya Iran tidak memenangkan perang ini, dan mereka harus berbicara, dan mereka harus berbicara segera, sebelum terlambat,” tambahnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa serangan militer negaranya ditujukan untuk menggagalkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh program nuklir dan rudal Iran.
Ketegangan meningkat setelah negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington yang dijadwalkan pada Minggu dibatalkan.
Baca Juga: Ucapan Fadli Zon soal tragedi Mei 1998 tuai kecaman, DPR akan panggil Menbud untuk klarifikasi
Ketegangan ini turut diperparah oleh laporan pengawas nuklir PBB terkait aktivitas atom Iran.
Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyebut tidak ada indikasi serangan fisik pada bagian bawah tanah fasilitas pengayaan uranium Natanz, namun bagian atas tanah situs itu disebut telah hancur.
“Keselamatan dari ancaman nuklir sedang dikompromikan atas konflik ini,” kata Grossi saat berbicara dalam rapat luar biasa dewan PBB mengenai situasi tersebut.
IAEA menegaskan tingkat radiasi di luar pabrik pengayaan uranium masih dalam batas normal, namun terus memantau perkembangan situasi yang dinilai dapat memicu krisis nuklir.***