Dengan demikian, penanganan terhadap para siswa dilakukan di beberapa fasilitas kesehatan seiring bertambahnya data siswa yang diduga mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan program MBG.
Pernyataan ‘berita baik’ jadi sorotan
Pernyataan Antonius mengenai kondisi siswa yang disebut sebagai "berita baik" kemudian menuai sorotan dari sebagian warganet.
Sorotan tersebut muncul karena pernyataan itu disampaikan ketika lebih dari 250 siswa dilaporkan mengalami dugaan keracunan dan harus mendapatkan penanganan medis.
Sejumlah warganet menilai penyampaian tersebut seharusnya disertai dengan empati terhadap para siswa dan keluarga yang terdampak.
“Padahal bisa memberi statement yang ada empatinya, seperti permintaan maaf dan janji evaluasi,” tulis akun @adr*******e.
Baca Juga: 350 ASN Kemenag Subang gelar dzikir dan doa jelang HUT ke-81 RI
“Ini seperti sudah KLB kalau sebanyak itu yang jadi korban, kok responnya begitu?” tulis akun @lin********h.
Sementara warganet lainnya mencoba memahami maksud pernyataan tersebut, meski tetap menilai penggunaan istilah "berita baik" kurang tepat.
“Maksudnya mungkin anak-anak itu keadaannya sudah membaik, jadi tidak terlalu parah. Tapi memang tutur bahasanya kurang tepat,” tulis akun @dea******g.
Hingga informasi dalam rilis ini, pemerintah daerah masih berfokus pada penanganan kesehatan para siswa yang diduga terdampak kasus tersebut.***
Artikel Terkait
Satpam SPPG di Ciputat diduga jual 1.700 ompreng MBG untuk beli narkoba, gimana awal mulanya?
Diduga gegara konsumsi menu MBG basi, 707 warga sekolah di SMKN 6 Semarang alami keracunan massal
Terperosok ke area bibir pantai, kecelakaan mobil MBG di Madura mendadak viral di medsos
Dapur MBG wajib kantongi sertifikat SLHS, BGN beri target waktu singkat
Kepala SPPG Karanganyar muntah-muntah usai cicip menu MBG, 94 ompreng ditarik usai sempat dikirim ke sekolah
Dugaan keracunan MBG di Berastagi: 269 Siswa dirawat, paling banyak dari SMAN 1 Berastagi
Viral peternak ayam bongkar kelakuan oknum dapur MBG, mau beli telur nyaris busuk hingga manipulasi harga di nota anggaran