Menurutnya, kesalahan dalam memahami konten digital seperti ini dapat memicu kesimpulan yang keliru jika tidak disertai verifikasi yang matang.
Alarm bahaya hoaks di era AI
Qodari menegaskan bahwa kasus ini menjadi peringatan serius terkait maraknya penyebaran hoaks, terlebih dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan yang mampu memanipulasi konten secara meyakinkan.
“Ini menjadi alarm bahaya hoaks di era AI. Bahkan tokoh senior sekalipun bisa terjebak jika tidak melakukan verifikasi secara menyeluruh,” tandasnya.
Baca Juga: Kunjungan PT Taspen ke Promedia Group Bandung, bahas industri media hingga layanan pensiun
Ia pun mengingatkan pentingnya literasi digital bagi masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang belum terverifikasi kebenarannya.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa kehati-hatian dalam menyikapi informasi di era digital menjadi hal krusial untuk mencegah penyebaran hoaks yang dapat merugikan berbagai pihak.***
Artikel Terkait
Akun pengamat IT ini digeruduk netizen pasca isu ransomware BRI terbukti hoax
Hoax isu 109 ton emas palsu baru-baru ini, PT Antam pernah bilang begini
Buktikan bukan hoax dan temukan Minyakita hanya berisi 0,75 liter, Mentan bersikeras cabut izin perusahaan
Rocky Gerung ungkap pernah usul Mahfud MD jadi presiden, sindir pengangkatan Qodari di KSP
Menkomdigi Meutya Hafid tegur Meta: Cepat hapus Palestina, tapi lemah tangani hoax dan judi online
Seskab Teddy minta dukungan orang tua batasi akses medsos anak di bawah 16 tahun
Bazar Lebaran Monas diserbu ratusan ribu warga, Seskab Teddy ungkap instruksi Presiden Prabowo