ICW soroti utang Whoosh Rp116 triliun: Pemerintah dinilai kurang matang dalam perencanaan proyek

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 12 November 2025 | 20:05 WIB
ICW soroti perencanaan persiapan proyek Whoosh oleh pemerintah (Instagram.com/@keretacepat_id)
ICW soroti perencanaan persiapan proyek Whoosh oleh pemerintah (Instagram.com/@keretacepat_id)

Ia menegaskan, sebelum proyek seperti Whoosh dijalankan, seharusnya dilakukan kajian mendalam mengenai kebutuhan dan potensi pengguna.

“Kalau perencanaannya beres, 50 persen pekerjaan itu sudah selesai,” kata Almas.

ICW minta pemerintah buka kajian awal Whoosh

Dengan mencuatnya polemik utang Whoosh, ICW menilai ini menjadi momentum bagi publik untuk menagih transparansi kajian proyek.

“Soal Jakarta–Bandung ini kan ada banyak opsi transportasi publik, dari kereta, travel, sampai mobil pribadi. Jadi perhitungannya harus rigid dan masuk akal,” tegas Almas.

Baca Juga: Tangis haru sambut kepulangan Bilqis, balita Makassar yang sempat diculik di taman bermain

Ia juga mengakui bahwa Whoosh memiliki manfaat dalam hal efisiensi waktu tempuh, tetapi menegaskan bahwa kebijakan proyek besar harus didukung oleh perencanaan yang matang.

“Orientasi kebijakan yang berdampak jangka panjang apalagi utang, harus benar-benar rigid di tahap persiapan dan kajiannya,” ujarnya.

Proyek membengkak

Sebelumnya, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menjelaskan bahwa proyek Whoosh awalnya ditawarkan Jepang dengan nilai 6,2 miliar dolar AS dan China dengan 5,5 miliar dolar AS.

Baca Juga: Bupati Subang tegaskan tak ada pungli dalam rekrutmen kerja, dorong sinergi kampus dan industri tekan pengangguran

Namun, proyek yang akhirnya dikerjakan bersama China membengkak hingga 7,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp116 triliun.

Dari total biaya itu, 75 persen dibiayai melalui pinjaman China Development Bank, sementara 25 persen sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham gabungan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebanyak 60 persen dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. sebanyak 40 persen.

Kini, pemerintah tengah mendiskusikan restrukturisasi utang tersebut, dengan opsi memperpanjang masa pembayaran dari 40 tahun menjadi 60 tahun.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X