Cerita lain datang dari Depok. Unggahan akun @depokfeed memperlihatkan menu MBG sederhana di salah satu SD negeri di Mampang, kentang rebus, wortel, pangsit goreng, saus saset, dan jeruk.
Meski dinilai 'minimalis', sebagian pihak menilai sajian itu masih bisa memenuhi kebutuhan gizi dasar anak sekolah.
Pertanyaan publik: Standar atau selera daerah?
Perbedaan mencolok antar daerah ini memunculkan diskusi soal standar gizi dan pengawasan implementasi MBG.
Sebagian menganggap perbedaan wajar karena kondisi logistik dan bahan lokal berbeda. Namun ada pula yang menilai perlu pedoman visual baku agar citra program tak tergerus persepsi 'asal kenyang'.
Program MBG sejatinya dirancang untuk menghadirkan keadilan gizi bagi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia, apa pun daerahnya.
Kini, publik menanti bagaimana BGN menjawab perbedaan di lapangan agar Rp10 ribu per porsi benar-benar terasa bernilai sama bagi semua.***
Artikel Terkait
DPR soroti program MBG Prabowo: Target penerima manfaat meleset, daerah 3T dan kemiskinan ekstrem belum tersentuh
Kemenkes awasi ketat program MBG, terapkan sistem pendataan ala COVID-19 hingga pantau gizi siswa
Luhut Binsar Pandjaitan ingatkan Menkeu Purbaya: Tak perlu tarik anggaran tak terserap program MBG
Menu MBG Depok viral disebut minim gizi, SPPG ungkap alasan dan BGN lakukan sidak
MBG disebut jadi penyebab naiknya harga daging dan telur ayam, BGN: Konsumsi meningkat butuh peternak baru
CEO Promedia: Bersihkan oknum MBG, program unggulan Presiden jangan jadi proyek pribadi
Ramai soal susu MBG hanya 30 persen segar, BGN klaim tak ada manipulasi dan singgung dampak ekonomi peternak lokal