Kang Akur ajak ASN dan warga Subang jadikan kebersihan sebagai karakter

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 10 Oktober 2025 | 19:19 WIB
Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi (Kang Akur) pimpin Aksi Kebersihan Lingkungan dalam rangka World Cleanup Day (WCD) 2025 di Halaman Kantor Bupati Subang, Jumat, 10 Oktober 2025 (Dok. Istimewa)
Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi (Kang Akur) pimpin Aksi Kebersihan Lingkungan dalam rangka World Cleanup Day (WCD) 2025 di Halaman Kantor Bupati Subang, Jumat, 10 Oktober 2025 (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi atau yang akrab disapa Kang Akur, mengajak seluruh ASN dan masyarakat menjadikan kebersihan sebagai bagian dari karakter dan budaya hidup warga Subang.

Ajakan itu disampaikan Kang Akur saat memimpin Apel Bersama dan Aksi Kebersihan Lingkungan dalam rangka World Cleanup Day (WCD) 2025 di Halaman Kantor Bupati Subang, Jumat, 10 Oktober 2025.

Kegiatan tersebut diikuti jajaran Forkopimda, ASN, TNI–Polri, pelajar, dan komunitas lingkungan, serta digelar serentak di seluruh kecamatan di Kabupaten Subang.

Baca Juga: Gelombang penolakan atlet Israel ke Indonesia, dari PDI-P hingga Gubernur DKI Jakarta

Jumsih jadi simbol budaya baru ASN dan warga Subang

Menurut Kang Akur, kegiatan World Cleanup Day merupakan kelanjutan dari Gerakan Jumat Bersih (Jumsih) yang telah dijalankan sejak Mei 2025 melalui Surat Edaran Bupati.

Gerakan ini, katanya, bukan lagi sekadar imbauan, tetapi sudah tumbuh menjadi tradisi dan budaya baru masyarakat Subang.

“Terima kasih kepada seluruh SKPD, khususnya Dinas Lingkungan Hidup yang terus menjaga konsistensi gerakan ini. Kebersihan harus jadi kebiasaan, bukan kegiatan musiman,” ujar Kang Akur.

Baca Juga: Kemenkeu buka peluang penempatan dana negara di BPD, tapi wanti-wanti risiko dan kasus lama

Budaya bersih, cermin masyarakat lestari

Kang Akur menegaskan, perilaku hidup bersih harus tumbuh dari kesadaran individu.

“Kalau kita sudah terbiasa hidup sehat dan bersih, maka melihat sampah di depan mata akan jadi refleks untuk kita bersihkan. Itu tanda budaya bersih sudah tumbuh,” ujarnya.

Ia juga menilai, masalah besar seperti pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa diminimalkan jika pengelolaan sampah dimulai dari tingkat rumah tangga.

“Kalau persoalan sampah selesai di bawah, maka masalah besar di atas akan jauh lebih ringan penanganannya,” tambahnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X