GENMILENIAL.ID – Filipina diguncang gempa dahsyat berkekuatan 6,9 magnitudo pada Selasa, 30 September 2025, yang menelan sedikitnya 69 korban jiwa dan melukai lebih dari 140 orang.
Getaran kuat dengan kedalaman hanya 10 kilometer itu merobohkan bangunan, meluluhlantakkan gereja bersejarah, hingga memicu kisah pilu di Mindanao.
Di Cebu, Bogo City menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Lebih dari 20 orang meninggal, termasuk anak-anak.
Ironisnya, sebuah kompleks olahraga yang difungsikan sebagai tempat pengungsian justru berujung tragedi karena atapnya roboh menimpa pengungsi dan petugas.
Di Daanbantayan, Gubernur Cebu, Pam Baricuatro melaporkan robohnya sebuah gereja bersejarah.
Ia menyebut hilangnya bangunan itu bukan hanya soal material, tetapi juga pukulan terhadap identitas kultural dan spiritual warga setempat.
Sementara itu, di General Santos, Mindanao, kisah dramatis terjadi di tengah kepanikan warga di dalam Mall Mindanao.
Seorang ibu, Erlinda, hanya bisa memeluk putranya yang berusia 10 tahun ketika gedung berguncang hebat.
“Saya langsung berdiri dan memeluk putra saya. Ia ketakutan dan gemetar,” tuturnya.
Kisah serupa datang dari Nilda Masibay yang masih terbayang detik-detik mencekam itu.
“Jantung saya berdebar kencang sekali. Saya pikir itu akhir hidup saya. Banyak orang berlarian,” katanya dengan suara bergetar.
Artikel Terkait
Gempa magnitudo 6,3 guncang Bengkulu, puluhan rumah rusak, warga mengungsi
Gempa M 6,3 guncang Bengkulu, 100 rumah rusak dan Pemprov janji bangun kembali
Gempa Poso sebabkan puluhan warga terluka, Gereja Jemaat Elim rusak
Gempa M 4,9 guncang Jakarta-Bekasi, warga panik, BNPB pastikan belum ada laporan kerusakan
Rangkaian gempa RI pada 20–21 Agustus, BMKG catat 15 wilayah terdampak
Kamchatka diguncang gempa 7,4 magnitudo, peringatan tsunami dikeluarkan
Evakuasi Ponpes Al Khoziny: 66 santri diduga terjebak, Tim SAR lawan medan sempit dan ancaman gempa susulan