GENMILENIAL.ID — Kekosongan stok BBM non-subsidi di beberapa SPBU swasta belakangan ini tidak disebabkan krisis pasokan, melainkan lonjakan permintaan yang tiba-tiba.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa fenomena ini adalah hasil pergeseran konsumsi masyarakat dari BBM subsidi ke produk non-subsidi.
Baca Juga: Mentan tegaskan stok beras kosong di ritel modern bukan karena langka, tapi pergeseran distribusi
“Penyebab utama adalah shifting konsumsi. Ketentuan penggunaan QR Code untuk membeli Pertalite membuat banyak kendaraan tidak memenuhi syarat, sehingga masyarakat beralih ke BBM non-subsidi,” jelasnya kepada media di Kompleks Parlemen, Rabu, 3 September 2025.
Menurut data Kementerian ESDM, peralihan ini signifikan, sekitar 1,4 juta kiloliter BBM non-subsidi dikonsumsi lebih banyak dari sebelumnya, termasuk di SPBU swasta.
Baca Juga: DPR gelar rapat evaluasi, tindak lanjuti tuntutan rakyat pascademo akhir Agustus
Laode Sulaeman, Dirjen Migas, menambahkan bahwa masyarakat sudah mulai mengandalkan BBM beroktan tinggi (RON di atas 90) sebagai alternatif.
Untuk mengatasi gangguan pasokan ini, Kementerian ESDM berencana memanggil badan usaha BBM swasta, seperti Shell dan BP-AKR—pada pekan depan guna sinkronisasi impor dan distribusi.***
Artikel Terkait
Diperiksa Kejagung atas dugaan korupsi BBM Pertamina, influencer Fitra Eri: Keahlian di bidang otomotif
Belum selesai kasus BBM dan MinyaKita dioplos, kini muncul kasus LPG oplosan yang raup keuntungan hingga Rp10 miliar
Sebut kerugian Rp3,4 M, Mendag Budi Santoso segel SPBU di Bogor usai diduga curangi takaran BBM
Polisi patroli SPBU di Subang, pastikan stok BBM aman selama arus balik Lebaran 2025
Menimbang untung-rugi mobil hybrid: Irit BBM tapi harga dan servis masih jadi kendala
Riza Chalid terseret skandal korupsi BBM Rp193,7 triliun, 'Saudagar Minyak’ resmi jadi tersangka
Perbandingan mobil matic dan manual: Mana yang lebih hemat BBM dan mudah perawatannya?