Muncul usulan stairlift Candi Borobudur dipasang permanen, Istana: Nanti bisa dipertimbangkan

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 18:12 WIB
Candi Borobudur dan para pengunjung - Istana ungkap ada usulan stairlift permanen (Instagram/borobudurpark)
Candi Borobudur dan para pengunjung - Istana ungkap ada usulan stairlift permanen (Instagram/borobudurpark)

GENMILENIAL.ID - Wacana pemasangan stairlift permanen di Candi Borobudur mulai mencuat usai kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke situs warisan dunia tersebut, Kamis, 29 Mei 2025.

Perangkat stairlift atau kursi naik-turun tangga tersebut sebelumnya dipasang secara sementara untuk memudahkan akses kedua kepala negara saat mengunjungi Candi Borobudur usai agenda bersama di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah.

Baca Juga: Kilas balik Semuel Pangerapan: Mundur karena peretasan, kini tersangka korupsi PDNS

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Hasan Nasbi, menjelaskan bahwa stairlift yang dipasang tidak merusak struktur bangunan candi karena bersifat portabel tanpa menggunakan paku maupun bor.

Ia juga mengonfirmasi adanya usulan agar fasilitas tersebut dijadikan permanen.

“Awalnya memang dipasang sementara, tapi sekarang ada masukan dari sejumlah komunitas Buddhis dan pemerhati kebudayaan agar dibuat permanen,” ujar Hasan Nasbi kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 28 Mei 2025.

Menurutnya, sejumlah situs sejarah dunia telah menerapkan teknologi serupa sebagai bentuk inklusivitas bagi pengunjung dengan keterbatasan fisik.

Baca Juga: Jokowi akui nama kecilnya 'Mulyono', ungkap pernah sakit-sakitan sebelum ganti nama

Ia menyebut usulan tersebut akan dikaji lebih lanjut oleh pihak terkait.

“Usulan seperti itu nanti bisa dipertimbangkan. Keputusan permanen atau tidak akan dibahas dalam rapat bersama Kementerian Kebudayaan, dewan cagar budaya, serta pihak pengelola,” jelas Hasan.

Ia menilai usulan tersebut cukup positif karena membuka akses yang lebih luas bagi semua kalangan.

“Tempat-tempat bersejarah kita harus bisa diakses secara inklusif, termasuk bagi orang-orang yang secara fisik atau usia memiliki keterbatasan,” pungkasnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X