Kemenag ungkap jadwal sidang isbat 1 Syawal 1446 Hijriah, info waktu Idul Fitri akan diumumkan pada 29 Maret 2025

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 24 Maret 2025 | 10:18 WIB
Foto ilustrasi lebaran - Kemenag umumkan jadwal sidang isbat 1 Syawal 1446 Hijriah (Unsplash/Mufid Majnun)
Foto ilustrasi lebaran - Kemenag umumkan jadwal sidang isbat 1 Syawal 1446 Hijriah (Unsplash/Mufid Majnun)

GENMILENIAL.ID - Memasuki pertengahan Ramadhan, Kementerian Agama mengumumkan sidang isbat untuk 1 Syawal 1446 Hijriah.

1 Syawal 1446 Hijriah menandai waktu umat muslim bisa melaksanakan shalat Idul Fitri 2025 nantinya.

Dalam pengumuman yang dirilis oleh Kemenag, sidang isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1446 Hijriah akan dilakukan pada 29 Maret 2025.

“Kami akan menggelar sidang isbat awal Syawal, pada 29 Maret 2025,” ujar Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad di kantor pusat Kemenag, Jakarta pada Selasa, 18 Maret 2025.

Baca Juga: Hasil autopsi 3 polisi yang gugur dalam tugas penggerebekan judi sabung ayam di Lampung, terungkap peluru menembus dada dan kepala korban

“Sebagaimana biasanya, sidang isbat selalu digelar pada tanggal 29 Syakban untuk menetapkan awal Ramadhan, 29 Ramadhan untuk menetapkan awal Syawal, dan 29 Zulkaidah untuk menetapkan awal Zulhijjah," jelasnya.

Penetapan 1 Syawal nanti dengan menggunakan metode hisab dan rukyat yang sesuai dengan ajaran Islam.

Selain itu, metode ini sesuai dengan Fatwa MUI No 2 Tahun 2024 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Fatwa tersebut menjelaskan tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab dan rukyah oleh Pemerintah RI melalui Menteri Agama dan berlaku secara nasional.

Baca Juga: Jawab soal IHSG anjlok, Menteri UMKM pastikan bukan imbas dari program hapus utang di Bank BUMN

Abu Rokhmad juga menjelaskan bahwa secara perhitungan astronomi atau hisab, konjungsi terjadi pada 29 Maret 2025 jam 17.57.58 WIB.

“Data-data astronomi ini kita verifikasi melalui mekanisme rukyat,” ujarnya.

Rukyat adalah metode yang dilakukan oleh Nabi untuk menentukan awal dan akhir puasa.

Metode ini dilakukan dengan cara mengamati secara langsung bentuk bulan, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan peralatan optik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Sumber: Kemenag

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X