GENMILENIAL.ID – Hidup bagi seorang mukmin ibarat perjalanan panjang dengan tujuan jelas, mendekat dan bertemu dengan Tuhan.
Namun perjalanan ini bukan jalan pintas. Ada tanjakan melelahkan, turunan yang berisiko, dan rintangan yang harus dihadapi, kata Muhammad Muslihin, Pengurus ICMI Muda Jakarta.
Menurut Muslihin, para sufi telah menapaki jalan ini dan menuliskan maqāmāt, peta perjalanan spiritual yang harus dilalui setiap sālik.
“Layaknya mendaki gunung, kita butuh panduan agar tidak tersesat. Para ulama menuliskan pengalaman mereka supaya generasi berikutnya bisa menapaki jalan menuju Tuhan dengan lebih aman,” jelasnya.
Langkah pertama dalam perjalanan spiritual ini adalah kesadaran (yaqzhah), hati yang terbangun. Kesadaran bisa hadir melalui musibah, nasihat, atau ayat Al-Qur’an yang menembus hati.
Tilimsani, komentator kitab Al-Anshari, menyebutnya 'pintu semua kebaikan.' Tanpa kesadaran, kita bisa terus melakukan hal yang sama, bahkan yang salah, tanpa merasa perlu berubah.
Muslihin mencontohkan kisah Fudhail bin ‘Iyadh, perampok yang berubah menjadi sufi besar, dan Ibrahim bin Adham, seorang raja yang meninggalkan kemewahannya untuk hidup zuhud.
Kedua kisah ini membuktikan bahwa kesadaran bisa datang tiba-tiba dan mengubah arah hidup sepenuhnya.
Baca Juga: DKM Masjid Al Barokah gelar lomba dan Tabligh Akbar peringati Maulid Nabi
Kesadaran harus dirawat setiap hari. Beberapa cara yang bisa dilakukan, menurut Muslihin, antara lain muhasabah sebelum tidur, niatkan aktivitas sebagai ibadah, segera perbaiki kesalahan.
Kemudian kurangi hal yang sia-sia, perbanyak dzikir, dan peduli pada orang lain. Semua langkah ini menjaga hati tetap 'terjaga' sepanjang perjalanan hidup.
“Perjalanan menuju Tuhan memang panjang, tapi indah. Kesadaran adalah momen awalnya. Ambil langkah kecil hari ini, karena itu bisa mengubah arah hidup besok. Jangan tunda,” tutup Muslihin.***