Menurutnya, pencemaran sungai akibat sampah dapat berdampak jangka panjang jika tidak segera ditangani secara serius dan berkelanjutan.
“Namun, sungai adalah urat nadi kehidupan,” tegasnya.
Baca Juga: Tuai pujian, ibu-ibu di Wonogiri rela jaga perlintasan KA tanpa palang pintu demi keselamatan warga
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kelestarian sungai bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, mulai dari hulu hingga hilir.
Sampah jadi ancaman nasional
Founder Sungai Watch Indonesia, Gary Bencheghi, menyampaikan bahwa persoalan sampah bukan hanya terjadi di satu wilayah, melainkan menjadi tantangan hampir di seluruh daerah di Indonesia.
“Masalah sampah bukan di satu daerah, tapi semua daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, lokasi di Dusun Susukan Hilir dipilih sebagai contoh nyata bagaimana aliran irigasi kecil kerap tidak sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan masyarakat.
Baca Juga: Viral turis Malaysia dituduh tak bayar makan di Restoran Pagi Sore, ternyata sudah lunas Rp907 ribu
Melalui kegiatan ini, diharapkan muncul kesadaran baru bahwa menjaga sungai berarti menjaga masa depan lingkungan dan kehidupan manusia.
Kang Asep pun menutup dengan ajakan agar gerakan positif seperti ini terus dilanjutkan dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Mari kita lanjutkan, mari kita wariskan hal-hal kebaikan kepada generasi yang akan datang,” pungkasnya.***