Kesunyian seorang pemikir: Ketika Syahrir ditinggalkan tapi tetap setia pada bangsa

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 20 Mei 2025 | 06:46 WIB
Pertemuan Sutan Syahrir dan Jenderal Soedirman sekitar tahun 1946 (Instagram.com/@sejarah_bangsa)
Pertemuan Sutan Syahrir dan Jenderal Soedirman sekitar tahun 1946 (Instagram.com/@sejarah_bangsa)

Baca Juga: Syahrini berpose dengan Angelina Jolie dan Halle Berry di Cannes, sindir halus warganet?

Namun hari ini, suara sunyinya kembali terdengar. Lewat tulisan-tulisan, catatan diplomatik, dan prinsip moralnya yang tetap bersinar dalam sejarah, Syahrir berbicara kepada kita generasi yang tengah bingung mencari arah.

“Kalau kau benar-benar cinta pada bangsamu, maka cintailah juga kejujuran, pemikiran, dan kemanusiaan.”

Surat-surat Syahrir, baik yang nyata maupun yang terimajinasikan dalam serial ini, bukan sekadar nostalgia.

Mereka adalah undangan untuk merenung. Tentang apa arti kemerdekaan, tentang bagaimana seharusnya kita hidup dan memimpin. Dan mungkin, dalam sunyi yang penuh makna itu, Syahrir tak pernah benar-benar ditinggalkan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X