Baca Juga: IGK Manila tutup usia, Erick Thohir kenang kejayaan Persija dan Timnas Indonesia
“Animasi sangat berantakan, akting suara seperti orang membaca teks, tidak ada emosi, alur ceritanya tidak masuk akal,” ungkap akun @Keano-4.
Tak sedikit pula yang mempertanyakan proses produksi film yang disebut-sebut mengandalkan AI dalam tahap kreatif.
“Apa-apaan ini, Bro? Film ini sepenuhnya mengandalkan AI? Bayangin perjuangan belajar animasi, menggambar, dan menghidupkan karakter, lalu digantikan begitu saja?” kritik akun @FeliciaJ.
Perdebatan tentang kualitas animasi lokal
Fenomena ini menimbulkan perdebatan di kalangan netizen.
Baca Juga: Ramai isu kenaikan gaji DPR, Puan Maharani tegaskan hanya kompensasi rumah
Sebagian menilai rating buruk tersebut bisa menjadi evaluasi penting bagi industri film animasi Indonesia agar lebih serius memperhatikan kualitas.
Namun, sebagian lainnya menyayangkan langkah gegabah yang bisa mencoreng citra animasi lokal di mata publik.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak rumah produksi terkait kritik yang mengalir deras di IMDb maupun media sosial.***
Artikel Terkait
Animator film ‘Jumbo’ Ryan Adriandhy ceritakan fakta menarik di balik soundtrack 'Selalu Ada di Nadimu’
Ryan Adriandhy ngaku pernah hampir menyerah saat bikin film animasi ‘Jumbo’, kini laris se-Asia Tenggara
Pernah dibully semasa kecil, Ryan Adriandhy ngaku ceritakan kisah hidupnya lewat film animasi ‘Jumbo’
Komentar Ernest Prakasa usai film 'Agak Laen' disalip JUMBO: Kekalahan paling membanggakan
ESAI: Sains dan seni dalam film Sore 'Istri dari Masa Depan'
Hanung Bramantyo sindir penayangan film animasi merah putih: One for all yang dinilai terburu-buru
PFN garap film animasi 'Pelangi di Mars' dengan teknologi XR, target tayang 2026