Dari segi kesehatan mental, korban kekerasan verbal online berisiko mengalami depresi, kecemasan, dan dalam kasus ekstrem, keinginan bunuh diri.
Baca Juga: Ramai kasus pembunuhan akibat motif asmara di Lampung, ini hal yang dapat dijadikan pelajaran
Lindungan Anonimitas
Kekerasan verbal online hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perundungan digital, pelecehan seksual online, hingga ujaran kebencian.
Anonimitas menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong tindakan kekerasan verbal di media sosial.
Dengan bersembunyi di balik layar, pelaku dapat bersembunyi di balik layar dan tidak terbebani konsekuensi langsung dari ucapannya.
Hal ini menciptakan ilusi kekebalan yang mendorong perilaku agresif, dan Ini juga yang menyebabkan ekosistem game online dan media sosial sangat rentan dengan perundungan digital.
Perlindungan Terhadap Kekerasan Verbal
Regulasi Basic Online Safety Expectations (BOSE) di Australia, menetapkan standar keamanan bagi platform digital.
Selain itu, terdapat mekanisme pelaporan yang jelas, transparan, dan perlindungan khususnya untuk anak-anak.
Pendekatan ini dapat melengkapi UU ITE melalui program literasi digital, dan mewajibkan platform untuk mengembangkan kebijakan penggunaan konten yang lebih ketat.
Dengan mengadopsi prinsip-prinsip BOSE, Indonesia berpotensi dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.***
Artikel Terkait
Singgung almarhum ayahnya, Abidzar laporkan sebuah akun ke polisi
Jadi wali nikah Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar, Mudjie Massaid : Waktu berlalu cepat banget
Kimberly Ryder resmi laporkan suaminya Edward Akbar ke Polres Jakarta Selatan atas kasus dugaan penggelapan mobil
Tiko Aryawardhana, Suami BCL laporkan balik mantan istrinya ke Polda Metro Jaya soal ITE
Saat persidangan Dante, artis Tamara Tyasmara marah pada kuasa hukum Yudha Arfandi, ini penyebabnya
Polsek Cilandak tengah dalami kasus dugaan penggelapan uang endorse yang dilakukan admin medsos Awkarin
Aktor Stefan William umumkan punya anak lagi, ini respon Celine Evangelista