Baca Juga: Kebakaran hebat Kemayoran hanguskan 250 rumah, 330 KK terdampak dan mengungsi
Ia mengungkapkan, masih banyak orang tua yang menganggap undangan dari sekolah selalu berkaitan dengan urusan biaya.
“Kalau orang tua dipanggil ke sekolah, yang terbayang pasti soal uang. Padahal sekarang kita ingin ubah pola pikir itu,” katanya.
Menurutnya, pertemuan antara sekolah dan orang tua seharusnya lebih difokuskan pada perkembangan anak, bukan sekadar hal administratif.
Ia bahkan mendorong agar pertemuan dilakukan secara rutin, minimal tiga bulan sekali, untuk membahas tumbuh kembang siswa secara menyeluruh.
Baca Juga: Cinta di tengah api sejarah, tragedi sunyi 'Tanah Terbelah' yang mengiris hati
Ketidaksinkronan pendidikan di rumah dan sekolah
Tatang juga menyoroti adanya ketidaksinkronan antara nilai yang diajarkan di sekolah dengan kebiasaan di rumah.
Ia mencontohkan kasus sederhana, seperti larangan merokok di sekolah yang tidak didukung di lingkungan keluarga.
“Di sekolah dilarang merokok, tapi di rumah justru diperbolehkan, bahkan difasilitasi. Ini membuat anak bingung,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu dilema pada anak dan menghambat proses pembentukan karakter.
Baca Juga: Seskab Teddy jawab kritik kunker luar negeri Prabowo, tegaskan hasil nyata untuk bangsa
Tantangan era digital
Selain itu, perkembangan media sosial juga menjadi tantangan baru dalam dunia pendidikan.
Anak-anak kini lebih mudah terpengaruh oleh informasi dari luar dibandingkan arahan guru atau orang tua.