GENMILENIAL.ID – Upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini terus diperkuat. Bank Sampah Karya Bakti Sejahtera (KBS) menjalin kolaborasi dengan SMA Negeri 3 Subang melalui edukasi pengelolaan sampah berbasis sumber.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 5 Mei 2026, dengan melibatkan siswa dan pihak sekolah dalam pemahaman pentingnya memilah sampah sejak dari awal.
Direktur Bank Sampah Karya Bakti Sejahtera, Tita Andriani, menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda, termasuk dalam kepedulian terhadap lingkungan.
Baca Juga: Nekat curi Rp66 juta demi biaya nikah, aksi mantan karyawan di Pamanukan berakhir di tangan polisi
“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan pola pikir generasi masa depan," ujar Tita Andriani dalam keterangannya kepada GenMilenial.id, Selasa, 5 Mei 2026.
"Dengan jumlah warga sekolah yang mencapai lebih dari seribu siswa, potensi timbulan sampah menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan,” tambahnya.
Jika tidak dikelola dengan baik, kata Tita, sampah berpotensi menjadi masalah serius. Namun sebaliknya, sampah juga dapat memberikan manfaat jika ditangani dengan tepat.
“Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi masalah besar. Namun, di tangan yang tepat, sampah justru bisa menjadi sumber manfaat,” ujarnya.
Baca Juga: Ratusan buket bunga penuhi Stasiun Bekasi Timur, simbol duka dan empati untuk korban kecelakaan
Potensi sampah capai satu truk dalam tiga pekan
Berdasarkan hasil analisa Bank Sampah KBS, timbulan sampah di SMA Negeri 3 Subang diperkirakan dapat mencapai satu truk dalam kurun waktu tiga pekan.
“Kita turun ke sekolah upaya edukasi soal sampah, OSIS SMA Negeri 3 Subang memaksimalkan pemilahan sampah dan penurunan sampah ke TPA," kata Tita.
"Sesuai data analisa yang dilakukan oleh bank sampah KBS, sampah di SMA Negeri 3 Subang berpotensi 1 truk setiap 3 pekan sekali, dengan adanya pemilahan ini maka potensi pembuangan sampah ke TPA bisa berkurang,” jelasnya.
Melalui program ini, siswa didorong untuk mulai memilah sampah bernilai sejak dari sumbernya, sehingga volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan.