GENMILENIAL.ID – SMP Panatagama Subang mulai bergerak serius menjawab persoalan sampah dari sumbernya dengan menggandeng pegiat lingkungan melalui program pelatihan pengelolaan sampah berbasis sekolah pada Selasa, 31 Maret 2026.
Langkah ini menjadi bagian awal menuju program Adiwiyata, sekaligus upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak dini di kalangan siswa.
Kepala SMP Panatagama Subang, Yanda Egi Fajriyandi, menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari lingkungan sekolah melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah.
“Harapannya, SMP Panatagama Subang dapat mengikuti program Adiwiyata. Untuk itu, kami harus mulai membangun kebiasaan baik dalam pengelolaan sampah sejak dari lingkungan sekolah,” ujarnya.
Baca Juga: Viral sopir bus di Cilegon dipukul penumpang, berawal dari salip-menyalip hingga mediasi gagal
Bank sampah jadi kunci pengurangan sampah
Dalam pelatihan tersebut, Bank Sampah Karya Bhakti Sejahtera (KBS) menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumber sebagai solusi utama mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Direktur Bank Sampah KBS, Tita Andriani, menyebut bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar membuang, tetapi mengubah pola pikir agar sampah memiliki nilai guna.
“Sampah yang terpilah akan mampu mengurangi tumpukan sampah ke TPA. Sampah organik bisa dimanfaatkan menjadi pakan maggot dan kompos, sementara sampah anorganik dipilah untuk memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.
Ia menambahkan, program bank sampah juga berperan dalam membangun kebiasaan baru yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Es kuwut diduga jadi penyebab keracunan MBG di Pemalang, ini temuan investigasinya
Maggot jadi solusi cepat sampah organik
Sementara itu, pegiat dari Bumi Maggot Inovasi, Mochamad Rizky Fauzie Ramadhan, menyoroti peran maggot sebagai solusi cepat dalam mengurai sampah organik.
Menurutnya, budidaya maggot mampu mengurangi volume sampah secara signifikan dari sumbernya sekaligus memberikan nilai tambah.