GENMILENIAL.ID - Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) merupakan sebuah entitas budaya yang telah meninggalkan bekas dalam sejarah pergerakan seni dan budaya di Indonesia.
Meskipun telah lama bubar, kehadiran Lekra menghadirkan sejumlah sorotan tajam dari berbagai pihak, baik dari para pengagum setianya maupun kritikus yang memandangnya sebagai lembaga yang kontroversial.
Sejarah Lekra di Indonesia berawal dari periode pergerakan nasional dan perang kemerdekaan.
Didirikan pada tahun 1950, Lekra memiliki misi utama untuk menyebarkan nilai-nilai seni dan budaya rakyat, serta mengkritisi kesenjangan sosial dan ketidakadilan yang melanda masyarakat Indonesia pada masa itu.
Sebagian orang menganggap bahwa Lekra merupakan sayap budaya dari Partai Komunis Indonesia, namun hingga saat ini pendapat tersebut masih menjadi perdebatan dikalangan para ahli sejarah.
Baca Juga: Sastra dan puisi, refleksi perjalanan menghibur jiwa yang sepi
Salah satu aspek penting dari Lekra adalah perannya dalam menghidupkan kembali kesenian tradisional dan memperkenalkannya kepada masyarakat urban.
Mereka melatih seniman, penulis, dan pujangga untuk menciptakan karya-karya yang mencerminkan kondisi sosial dan politik, sambil mempertahankan nilai-nilai lokal.
Pada awalnya, Lekra mendapat dukungan yang luas dari para seniman, intelektual, dan masyarakat, karena dianggap sebagai sebuah gerakan yang menyegarkan di tengah kemapanan seni dan budaya zaman kolonial.
Namun, dukungan tersebut juga menarik perhatian dari pihak berwenang yang cemas dengan pengaruh politik yang dimiliki oleh Lekra.
Puncak dari kontroversi yang melibatkan Lekra terjadi pada masa Orde Baru, ketika rezim Soeharto mengambil alih kekuasaan pada tahun 1966.
Baca Juga: Yuk simak! seperti ini cara dan syarat dapat centang biru di Instagram dan Facebook
Pemerintahan militer menyatakan Lekra sebagai lembaga yang terlibat dalam propaganda komunis dan menekan segala bentuk oposisi.