Jaraknya dibatasi ribuan paralon
Kadang tak puasa seharian
Menelan perkakas biji besi
Sampai bersekutu
Dengan kegelisahan
Tak mandi matahari
Nyaris tiga tahun
Aku buas memperkosa
Apa saja binatang liar
Yang menyusup dalam air tanah
Menulis sajak dengan air lumpur
Tak kunjung selesai
Sampai bait ketiga
Lalu kutebar kemarau
Di area persawahan yang berkabut
Baunya sangat membusuk
Racunnya tiba-tiba membentuk
Sebuah ritual yang menyebalkan
Sehingga kulitku gatal dan keruh
Membabi buta siang dan malam
Maka menulis sajak dengan air lumpur
Harus diakhiri dengan doa syafaat
Biar mengalir kran air hikmat
Dari hilir ke hulu
Sungai-sungai kehidupan
Tak putus pada mata air
Sampai maranatha
Di ujung senja
Jakarta, Rabu, 5 April 2023
5. Rumah Dagon
Suatu hari suci ketujuh
Pikiranku diikat keras
Sekeras sayap besi lusifer
Tak punya biji kemaluan
Dihembus roh amarah
Persis seperti bukan mitos
Kain membunuh habel
Kemudian tanganku
Berabad-abad tuli akut
Diborgol ratusan legion liar
Yang tiba-tiba muncul
Untuk dibawa ke tanah kuburan
Orang-orang hilang ingatan
Sedangkan kakiku
Setengah lumpuh
Dicakar sadis
Berdarah
Kuku-kuku beelzebul
Selaku penghulu setan
Meniup sangkakala kekalahan
Bahkan para baal peor, asytoret, milkon Bersama kamos
Menyusup ke dalam tubuhku yang jadi rumah dagon
Sedang kelaparan rohani
Haus disiram air keras
Seperti akar pohon anggur
Tumbuh sampai menembus
Langit dan cakarawala ketiga
Mereka juga bersekutu
Dengan binatang dari dalam laut
Dengan binatang dari dalam bumi
Penjaga garis pantai dunia
Sehingga nyaris kuabaikan
Ajaran rahib palsu
Yang berbuah ; azimat-tenung-sihir-arwah-
peramal, patung bernyawa