GENMILENIAL.ID - Dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia, Pramoedya Ananta Toer muncul sebagai salah satu sosok yang tak hanya mencatat zaman, tetapi juga menghidupi ide tentang apa artinya menjadi manusia Indonesia.
Melalui karya-karyanya, ia menanamkan kesadaran bahwa menjadi manusia Indonesia adalah tentang memahami akar, berani melawan ketidakadilan, dan tetap berdiri tegak di tengah pergulatan dunia modern.
Bagi Pramoedya, manusia Indonesia bukan sekadar makhluk yang lahir di negeri ini. Lebih dari itu, ia harus menyadari identitasnya, menghidupi sejarahnya, dan ikut bertanggung jawab atas masa depan bangsanya.
Baca Juga: Dimakamkan di San Diego Hills, manajer ungkap pergi ke taman jadi keinginan terakhir Ricky Siahaan
Dalam banyak karyanya, terutama dalam Tetralogi Buru — Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca — Pram memperlihatkan bagaimana manusia Indonesia harus berjuang untuk menjadi tuan di negeri sendiri, melawan ketertundukan, serta berani bermimpi tentang kebebasan yang sejati.
Pramoedya memandang bahwa manusia Indonesia lahir dari pergolakan. Sejarah panjang kolonialisme telah membentuk karakter bangsa yang penuh luka, namun sekaligus mengandung kekuatan untuk bangkit.
Dalam narasi-narasinya, Pram menolak gambaran manusia Indonesia yang pasrah atau apatis. Ia justru mengangkat sosok-sosok yang meski jatuh, tetap berani mencoba berdiri kembali.
Baca Juga: Bunda Iffet, ibu Bimbim Slank meninggal dunia di usia 87 tahun: Wafat diiringi keluarga tercinta
Baginya, kesadaran sejarah adalah fondasi utama. Tanpa mengenali dirinya sendiri, bangsa ini hanya akan menjadi bayang-bayang di tanahnya sendiri.
Di sisi lain, Pram juga mengkritik keras berbagai bentuk feodalisme, ketidakadilan, dan korupsi yang diwariskan dari masa kolonial hingga merasuki pemerintahan sendiri.
Manusia Indonesia, menurut Pram, harus membersihkan dirinya dari mentalitas penjajahan. Ia harus berpikir merdeka, bertindak merdeka, serta berani menyuarakan kebenaran, meski risikonya berat.
Pram sendiri menjadi bukti hidup atas perjuangan ini; berkali-kali dipenjara, dibungkam, namun tetap menulis, tetap bersuara.
Dalam pandangan Pramoedya, menjadi manusia Indonesia juga berarti menjadi bagian dari dunia yang lebih luas, tanpa kehilangan jati diri. Ia menolak nasionalisme yang sempit.