news

Petani garapan, gantungkan hidup pada tuan tanah, ditengah himpitan ekonomi dan harga pupuk yang melambung

Sabtu, 1 Juli 2023 | 15:48 WIB
Pertemuan Kelompok Tani Desa Palasari dengan Tokoh Masyarakat Letnan Kolonel CHK (Purn) Mochamad Lukmantias Amin pada Jumat 30 Juni 2023

Baca Juga: Generasi masa depan, menelusuri perbedaan baby boomers hingga generasi alpha

"Saya menawarkan kepada mereka tadi untuk intensifikasi pertanian, kemudian kedepan kita juga akan berusaha membantu permodalan termasuk juga masalah pupuk," kata Kang Lukmantias.

Terkait pupuk, kata Kang Lukmantias, walaupun harus melakukan substitusi urea kepada bentuk pupuk yang lain, pihaknya juga menawarkan pembuatan pupuk organik melalui pemanfaatan magot.

"Itu kita harapkan bisa menjadi substitusi, misalnya kalau intensifikasi kita melalui hidroponik itu produk daripada turunan, pengolahan sampah organik oleh magot, salah satunya juga bisa sebagai pupuk untuk hidroponik," jelasnya.

Kang Lukmantias juga menyebut bahwa penggunaan pupuk kimia cukup mahal sedangkan pupuk yang organik dari turunan magot bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah.

Baca Juga: Di Pesantren An Nida, Kang Lukmantias serap aspirasi, salah satunya kesiapan anak muda dengan adanya Patimban

"Tapi memang kita perlu input sampah yang cukup besar perharinya sekitar 13 ton, supaya kita juga bisa mengejar dari sisi keekonomiannya," pungkasnya.

Disamping itu, lanjut Kang Lukmantias, pihaknya juga akan menawarkan storage (tempat penyimpanan) kepada para petani penggarap.

"Storage yaitu tempat penyimpanan yang menunda pembusukan dengan harapan petani dapat menyimpan hasil kebunya tidak tergantung kepada pengepul," ucapnya.

Dengan storage tersebut, para petani tidak akan terburu-buru untuk menjual hasil panennya karena takut membusuk, tapi bisa disimpan terlebih dahulu di tempat penyimpanan tersebut.

Baca Juga: Idul Adha 1444 H, Manajemen Florawisata D'Castello santuni ratusan anak yatim dan bagikan belasan hewan qurban

"Dengan adanya tempat penyimpanan yang memadai, petani dapat menunda penjualan untuk bisa mendapatkan hasil penjualan yang terbaik atau juga kemudian membuat produk turunan dari hasil pertanian," jelasnya.

Produk turunan tersebut bisa berupa hasil olahan ataupun dari sisi kemasan, dari hasil olahan tersebut diharapkan hasil pertanian tersebut bisa semakin meningkat nilai ekonominya.

"Termasuk juga ketika proses pengolahan itu dilakukan, proses packaging yang bagus dilakukan, tentu juga ada penyerapan tenaga kerja disitu, ini yang kita harapkan multiplayer effect daripada program yang ingin kita kembangkan ditingkat petani hortikultura," ucapnya.

Terkait distribusi (pasar), Kang Lukmantias juga akan mendorong penyerapan hasil para petani termasuk juga UMKM di sentra-sentra retailer yang sudah mapan.

Halaman:

Tags

Terkini