Seperti diberitakan Le Monde, Geffray menilai tindakan kekerasan telah mengganggu penyampaian aspirasi para demonstran.
Baca Juga: Dua OTT KPK dalam sepekan, dana bencana dan dugaan suap BPK jadi sorotan
“Sekali lagi, suara mereka yang berdemonstrasi untuk menyampaikan berbagai tuntutan telah dibungkam oleh kekerasan yang sama sekali tidak terkendali terhadap institusi,” tulisnya pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut membedakan aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui demonstrasi dengan tindakan kekerasan yang terjadi selama aksi berlangsung.
Biaya hidup dan pendidikan jadi pemicu demonstrasi
Demonstrasi pada 17 Oktober 2026 berkaitan dengan persoalan biaya hidup, kondisi sekolah, serta pendanaan pendidikan.
Baca Juga: Kejagung tangkap bos tambang berinisial DS, diduga rugikan negara Rp401 miliar
Aksi tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat yang menyuarakan tuntutan terkait kondisi ekonomi serta layanan publik.
Menurut laporan Le Monde, jumlah peserta demonstrasi diperkirakan mencapai 550.000 hingga 800.000 orang di seluruh Prancis.
Perbedaan angka tersebut berasal dari perkiraan pemerintah dan klaim pihak penyelenggara aksi.
Di tengah besarnya jumlah peserta, sejumlah kelompok dilaporkan terlibat bentrokan dan perusakan di beberapa kota.
Baca Juga: Gempa bumi terjadi di laut dekat Kota Sorong, ini lokasi pusat guncangannya
Di Paris, kerusuhan juga disertai upaya penjarahan toko dan perusakan etalase di kawasan komersial.
Situasi ini menambah persoalan bagi pelaku usaha yang gerainya mengalami kerusakan atau kehilangan barang dagangan.
Meski demikian, nilai total kerugian akibat peristiwa tersebut belum dapat dipastikan.