Kabut asap berisiko mengganggu kesehatan
Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Paparan partikel tersebut berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat di wilayah terdampak perlu mempertimbangkan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya kegiatan fisik yang membutuhkan banyak tenaga.
Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dapat membantu mengurangi paparan.
Baca Juga: Atlet panahan Subang Rafasya raih emas Kejurnas 2026 untuk Jawa Barat
Masyarakat juga perlu memperhatikan informasi kualitas udara dari sumber resmi sebagai bahan pertimbangan sebelum beraktivitas.
Selain itu, kondisi udara di sekitar tempat tinggal perlu diperhatikan, terutama apabila asap mulai mengganggu jarak pandang atau menimbulkan keluhan seperti batuk, iritasi mata, dan sesak napas.
Penanganan karhutla Kalteng masih menjadi perhatian
Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah membutuhkan upaya pemadaman, patroli, dan pencegahan agar api tidak meluas ke kawasan lain.
Baca Juga: Target pemulihan pasokan BBM Bali belum terwujud merata, warga masih antre
Salah satu tantangan dalam penanganan kebakaran adalah kondisi lahan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan berpotensi kembali menyala meskipun bagian permukaan terlihat telah padam.
Karena itu, pemantauan titik api dan pemeriksaan lokasi bekas kebakaran menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran berulang.
Di sisi lain, pemantauan kualitas udara diperlukan untuk mengetahui perkembangan pencemaran yang dirasakan masyarakat.
Data ISPU dapat menjadi acuan untuk memahami tingkat pencemaran sekaligus menentukan langkah perlindungan yang sesuai.