Suwarno mengatakan kegempaan masih terjadi di kawasan Gunung Anak Krakatau. Bahkan, tremor menerus atau microtremor masih terekam.
“Kalau kegempaan masih terjadi, tercatat tadi malam tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-6 mm, dominan 2 mm,” ungkap Suwarno.
Berdasarkan kondisi tersebut, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat juga diminta tetap memperhatikan informasi resmi dari pihak berwenang dan tidak mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Imbauan tersebut disampaikan karena kondisi Gunung Anak Krakatau yang terlihat lebih tenang setelah erupsi tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh aktivitas vulkaniknya telah berakhir.
“Kami mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang dan tidak menjadikan kondisi gunung yang terlihat tenang sebagai tanda bahwa seluruh aktivitas vulkanik telah berakhir,” tandas Suwarno.
Fenomena 'telur ceplok' di kawah Gunung Anak Krakatau pun menjadi gambaran lain dari kondisi gunung api tersebut setelah erupsi.
Di balik tampilannya yang menarik perhatian, genangan tersebut menurut penjelasan Kepala Pos Pantau merupakan air yang terkontaminasi gas belerang serta material pada lapisan dinding kawah.***