Suwarno menjelaskan, fenomena serupa tidak selalu terlihat di setiap gunung api.
Baca Juga: Viral warga Bener Meriah kompak bangun jalan rusak, patungan Rp80 juta secara swadaya
Pada Gunung Anak Krakatau, warna genangan dipengaruhi oleh kandungan belerang serta material yang terdapat pada lapisan dinding kawah.
“Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada,” terang Suwarno.
“Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu,” tambahnya.
Dengan demikian, tampilan menyerupai 'telur ceplok' yang terlihat dari atas kawah Gunung Anak Krakatau merupakan genangan air yang mengalami kontaminasi gas belerang dan material pada lingkungan kawah.
Baca Juga: Amukan karhutla terjang Gunung Buthak-Kawinajang di Jatim, 1.000 hektare hangus terbakar
Erupsi Anak Krakatau sempat sebarkan abu vulkanik
Sebelum fenomena tersebut muncul, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi besar pada 3 September 2026.
Aktivitas erupsi tersebut sempat menyebabkan sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah. Sebaran abu dilaporkan meliputi Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, hingga Jawa Barat.
Setelah aktivitas erupsi mulai mereda, kondisi Gunung Anak Krakatau terlihat relatif lebih tenang dalam rekaman yang beredar di media sosial.
Baca Juga: Kondisi siswi Karo yang diduga korban keracunan MBG kini membaik, sempat dijenguk Wapres Gibran
Namun, kondisi tersebut tidak berarti aktivitas vulkanik gunung api tersebut telah berhenti sepenuhnya.
Suwarno menyampaikan bahwa kegempaan masih tercatat di kawasan Gunung Anak Krakatau. Aktivitas tersebut menjadi salah satu indikator bahwa gunung api tersebut masih mengalami aktivitas vulkanik.
Gunung Anak Krakatau masih level III siaga