Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka soroti Wabup Lombok Tengah yang menjenguk tersangka pembakaran santri
Dengan demikian, keterlibatan FBI lebih bersifat teknis dan koordinatif, bukan dalam konteks penanganan perkara secara langsung.
Sitaan fantastis dari tiga perkara korupsi
Kasus yang menjerat Febrie Adriansyah sendiri mencakup tiga perkara besar, yakni dugaan korupsi pengadaan batu bara PLN, pengelolaan PT Asabri periode 2020–2025, serta penyelesaian utang antara PT CBS dan PT KNI.
Dalam proses penyidikan, aparat menemukan barang bukti dalam jumlah besar dari beberapa lokasi penggeledahan.
Di antaranya dari sebuah kafe di kawasan Cipete, penyidik menyita uang dalam berbagai mata uang asing dengan nilai sekitar Rp60 miliar.
Selain itu, dari sebuah money changer di wilayah yang sama, polisi mengamankan puluhan barang bukti berupa berbagai jenis mata uang asing dengan nilai mencapai Rp7,2 miliar.
Temuan terbesar berasal dari penggeledahan di sebuah rumah di kawasan Sentul, di mana penyidik menemukan uang tunai dalam dolar AS, dolar Singapura, rupiah, serta emas batangan seberat 74 kilogram.
Total nilai keseluruhan sitaan diperkirakan mencapai sekitar Rp476 miliar.
Penyidikan masih berlanjut
Hingga kini, penyidik masih terus mendalami aliran dana dalam kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Kehadiran FBI dan pihak asing lainnya dinilai sebagai langkah teknis untuk memastikan validitas barang bukti, khususnya mata uang asing, agar proses hukum berjalan akurat dan transparan.
Meski demikian, perhatian publik terhadap kasus ini dipastikan masih akan terus bergulir seiring perkembangan penyidikan yang semakin kompleks.***