Pengalaman tidak menyenangkan juga dialami akun @nurrohmahyanti.
Ia mengaku pernah diminta pindah dari kursi restorasi karena dianggap sudah ditempati oleh penumpang lain yang meninggalkan laptop di meja.
“Padahal saya lagi makan, tapi disuruh pindah karena dia merasa sudah duluan di situ,” tulisnya.
Warganet usul ada larangan laptop di restorasi
Seiring ramainya keluhan, sejumlah warganet mulai mengusulkan agar pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) membuat aturan lebih tegas terkait penggunaan restorasi.
Akun @abintangtimur menyarankan agar penumpang tidak diperbolehkan membawa laptop ke gerbong restorasi agar fungsi utamanya tetap terjaga.
Selain itu, ada pula yang mengusulkan pembatasan waktu penggunaan kursi hingga 30–60 menit, terutama saat kondisi kereta sedang padat.
Beberapa warganet bahkan menyoroti keberadaan colokan listrik di meja restorasi yang dianggap memicu penumpang untuk bekerja lebih lama.
“Jangan kasih colokan listrik, itu yang bikin orang betah kerja di situ,” tulis salah satu akun.
Respons KAI
Menanggapi hal tersebut, pihak KAI akhirnya buka suara. Dalam keterangannya, KAI menegaskan bahwa gerbong restorasi memang disediakan sebagai fasilitas bersama bagi penumpang untuk menikmati makanan dan minuman selama perjalanan.
“Kami memahami suasana restorasi yang nyaman kerap dimanfaatkan sebagian pelanggan untuk bekerja. Namun, kami mengimbau penggunaan ruang dilakukan secara bergantian, terutama saat kondisi padat,” tulis pihak KAI.