GENMILENIAL.ID - Alih fungsi lahan perkebunan nanas dan teh menjadi tebu di wilayah Subang selatan menuai sorotan dari kalangan mahasiswa.
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Subang menilai kebijakan tersebut tidak boleh hanya dilihat dari sisi investasi, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat.
Kader GMNI Subang sekaligus mahasiswa Universitas Mandiri, Moehamad Rizky, menegaskan bahwa Subang selama ini dikenal sebagai daerah agraris dengan kekuatan pada komoditas nanas dan teh yang telah menjadi identitas daerah.
“Subang bukan hanya penghasil padi, tetapi juga memiliki kekayaan perkebunan nanas dan teh yang menjadi kebanggaan masyarakat,” ujarnya pada GenMilenial.id, Rabu, 10 Juni 2026.
Ancaman hilangnya identitas daerah
Menurut Rizky, alih fungsi lahan berpotensi mengikis identitas Subang sebagai daerah penghasil nanas dan teh.
Nanas Subang telah dikenal secara nasional, sementara perkebunan teh memiliki nilai historis sekaligus ekologis bagi kawasan pegunungan.
Ia mempertanyakan apakah keuntungan dari perluasan perkebunan tebu sebanding dengan potensi kehilangan identitas daerah yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Apakah keuntungan dari tebu sebanding dengan risiko yang harus ditanggung masyarakat dan lingkungan dalam jangka panjang,” katanya.
Baca Juga: Pawai berubah petaka, Kang Rey takziah ke keluarga kru sisingaan yang meninggal
Risiko lingkungan dan ekologis
GMNI Subang juga menyoroti dampak ekologis dari alih fungsi lahan tersebut.
Perkebunan teh dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, terutama dalam menyerap air hujan dan mencegah erosi.