Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan lahan tersebut hanya mencakup sebagian kecil dari total area yang ada, bukan keseluruhan kebun nanas.
“Dari total lahan 448 hektar, sekitar 345 hektar merupakan tanaman nanas. Untuk program pembibitan tebu ini, hanya digunakan sekitar 100 hektar saja,” jelasnya.
Dengan demikian, sebagian besar lahan nanas tetap dipertahankan dan tidak mengalami perubahan fungsi.
Program nasional dukung swasembada pangan
Indra menjelaskan bahwa pembibitan tebu tersebut merupakan bagian dari program pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Program ini bertujuan untuk menyediakan benih tebu berkualitas yang nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat, khususnya petani melalui skema CPCL (Calon Petani Calon Lahan).
“Ini murni program pemerintah pusat untuk pembudidayaan benih tebu. Nantinya akan melibatkan masyarakat, desa, hingga dinas terkait dalam proses penyaluran,” ungkapnya.
Program ini juga disebut sejalan dengan arah kebijakan nasional yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat sektor pertanian.
Ikon nanas dipastikan tetap ada
Menanggapi kekhawatiran publik, Indra menegaskan bahwa identitas Jalancagak sebagai ikon nanas Subang tidak akan hilang.
Ia memastikan bahwa keberadaan kebun nanas tetap menjadi prioritas dan tidak akan digantikan sepenuhnya oleh tanaman tebu.
“Jadi jelas, ikon nanas Jalancagak tetap terjaga dan tidak akan musnah,” tegasnya.
Baca Juga: Perampokan disertai pembunuhan di Sragen, siswi SD ditemukan tewas dengan luka senjata tajam