Baca Juga: Polda Kalsel minta maaf usai oknum AKBP viral nyetir sambil merokok, kini diperiksa Propam
Sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang kreatif dan akademisi turut hadir untuk membahas peran budaya dalam penguatan identitas dan daya saing daerah, termasuk peluang budaya sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Cultural residency jadi ruang praktik langsung
Hari kedua dan ketiga difokuskan di kawasan Boon Pring melalui program cultural residency yang melibatkan kolaborasi lintas institusi kebudayaan.
Peserta terlibat dalam aktivitas seperti Jelajah Nusantaraya, Jelajah Rasa, hingga Sekolah Bambu.
Direktur Program ICF, Seto Hari Wibowo, menegaskan bahwa pendekatan berbasis pengalaman menjadi inti dari festival.
Baca Juga: Kasus persetubuhan dan pencabulan anak di Subang terungkap, kakek tiri setubuhi 4 korban sejak 2012
“Peserta tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi terlibat langsung dalam proses, mulai dari eksplorasi hingga produksi pengetahuan,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan juga mencakup business matching dan pemetaan stakeholder untuk memperkuat rantai pasok ekonomi kreatif berbasis lokal.
Deputi Ekosistem Kreatif ICCN, Zandri Aldrin, menilai pendekatan interaktif ini membuka ruang dialog antara gagasan dan praktik.
“Pendekatan ini membuka ruang dialog antara gagasan dan praktik, sehingga hasilnya lebih kontekstual dan aplikatif,” katanya.
Dorong kolaborasi berkelanjutan lintas sektor
ICF 2026 juga menghadirkan forum leader’s talk, pemetaan strategis kawasan, serta penandatanganan kerja sama lintas sektor.
Program ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, kampus, dan sektor swasta.